Sabtu, 05 Januari 2013

KONTRIBUSI TEMAN SEBAYA TERHADAP PERKEMBANGAN BELAJAR ANAK


KONTRIBUSI TEMAN SEBAYA
TERHADAP PERKEMBANGAN BELAJAR ANAK

Oleh : Parlina Susi Siswanti

      Senyum, salam, dan sapa adalah hal yang sering kita lihat dari teman kita, khususnya teman sebaya yang hampir setiap hari kita temui. Begitupula dengan siswa kita, khususnya siswa sekolah dasar. Setiap hari bersua di lingkungan sekolah maupun di lingkungan bermain, walau terkadang banyak pertengkaran, toh pada akhirnya anak-anak mudah melupakan dan segera bermain kembali seperti biasa.

      Terkadang alasan yang membuat mereka datang ke sekolah bukan hanya sekadar untuk menuntut ilmu tetapi juga untuk dapat bertemu dan bermain bersama teman sebayanya. Siswa yang setiap hari harus belajar di dalam sekolah, tentu saja memiliki saat-saat jenuh. Dan di saat kejenuhan itu muncul, siswa cenderung lebih sibuk dengan temannya, entah itu mengobrol maupun memainkan permainan yang dapat dilakukan sambil duduk dan mendengarkan guru.

      Hal ini tidak dapat dianggap sepele, karena apabila siswa yang sibuk bermain atau bercakap-cakap dengan teman sebayanya (teman sebangku) di saat pembelajaran sedang berlangsung, tentunya akan mengganggu proses belajar mengajar, mengganggu konsentrasi teman-temannya yang sedang memperhatikan guru dan bisa jadi akan tertinggal dibanding teman-temannya.

      Anak-anak dalam suatu kelas pastilah memiliki karakter yang berbeda, ada yang rajin, ada yang malas, ada yang suka mengganggu temannya, ada yang pendiam dan lain sebagainya. Dengan berbagai karakter yang tadi disebutkan, bukan berarti karakter tersebut tidak dapat berubah. Salah satu faktor yang memicu perubahan itu adalah faktor lingkungan. Lingkungan di sini dapat dibedakan menjadi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan keluarga sudah jelas, seperti yang tercantum dalam paparan Dorothy Law Nolte (Gordon Dryden dan Yeanette Vos, Revolusi Cara Belajar (The Learning Revolution), Bagian I : Keajaiban Pikiran, Penerbit Kaifa, Bandung, 2000, halaman 104) pada halaman berikutnya :

ANAK BELAJAR
DARI KEHIDUPANNYA

1.       Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
2.       Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
3.       Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
4.       Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
5.       Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
6.       Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
7.       Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
8.       Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
9.       Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
10.   Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar mengharga
11.   Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
12.   Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
13.   Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
14.   Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
15.   Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
16.   Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
17.   Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
18.   Jika anak dibesarkan dengan ketenteraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.

Itulah, anak belajar dari apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Terutama dari lingkungan keluarga. Karena sebagian besar waktu anak yaitu waktu ia berada di rumah. Tapi anak-anak pasti memiliki waktu bermain, di sanalah anak belajar untuk bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat. Sepulang sekolah hingga sore menjelang, biasanya anak-anak akan berkumpul bersama teman sebaya yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya. Teman sebaya tersebut tentunya memiliki karakter yang berbeda dengan anak tersebut. Tetapi karena intensitas pertemuan mereka tinggi, anak akan mulai menyesuaikan diri dan lama kelamaan akan terbawa dengan karakter temannya.
Teman sebaya itu bisa membawa dampak negatif maupun positif.  Saya terlebih dahulu akan membahas dampak negatifnya. Umpamanya saja si Amin mempunyai teman sebaya, Rino, yang hobinya bermain berjam-jam di tempat penyewaan Playstation maupun bermain di Warnet, mungkin pada awalnya Amin tidak suka, tetapi karena Rino terus mengajak dan membujuknya untuk ikut, lama kelamaan Amin menjadi penasaran hingga mau menemani Rino, Amin yang tadinya hanya menemani akhirnya penasaran untuk mencoba, kemudian setelah menemukan kesenangan, Amin akan menjadi terbiasa bermain bersama Rino di tempat-tempat seperti itu (Warnet, Penyewaan Playstation, dsb). Dengan demikian Amin belajar menjadi anak yang seperti Rino, hobinya bermain hingga kadang lupa belajar dan mulai tertinggal pelajaran di sekolah.

Bermain bagi anak memang penting, selain untuk membiasakan anak untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya, juga untuk memperoleh kesenangan dan sebagai sarana pembelajaran. Tapi waktu bermain bersama teman sebaya jangan terlalu berlebihan, karena terlalu banyak bermainpun tidak baik bagi perkembangan anak. Apalagi bila bermainnya untuk hal yang tidak jelas, terlalu banyak bermain di depan computer maupun televise (playstation) dapat mengakibatkan kerusakan pada mata, dan banyak kasus anak yang telah terbiasa bermain lupa akan kewajibannya sebagai pelajar, dan bahkan ada yang sampai drop out dari sekolah akibat malas dan ingin terus bermain-main saja.

Tidak sampai di sana, di lingkungan sekolah, Amin berteman dengan Faisal, Faisal merupakan anak yang badung, sering berjalan-jalan bahkan ketika ada guru, suka mengganggu temannya dan sebagainya. Amin yang tadinya pendiampun lama kelamaan akan terbawa, apalagi bila mereka berteman dekat, anak akan mudah meniru tingkah laku orang lain. Sehingga ketika dalam proses belajar mengajar, Amin akan meladeni Faisal yang mengajaknya bercakap-cakap atau bermain dan menjahili temannya. Begitulah teman, amat mempengaruhi perkembangan belajar seorang anak. Apabila seorang anak berteman dengan anak yang memiliki perilaku negative, kemungkinan anak tersebut akan belajar untuk berperilaku negative pula alias “tertular”. Tapi itu semua juga tergantung pada didikan orang tua dan guru yang membimbingnya, bisa saja anak tersebut tidak terpengaruh, tapi saya rasa sebagian besar akan terpengaruh, karena apa yang mereka, lakukan merupakan suatu kesenangan tersendiri yang kadang tidak dapat kita mengerti.

      Nah, sekarang saya akan membahas mengenai dampak positif yang dapat ditularkan oleh teman sebaya. Ketika seorang anak memiliki teman sebaya yang rajin, pintar, senang membantu, menghormati orang tua dan lain sebagainya, peranggainya baik, ketika mereka bermain bersama, lama kelamaan akan terpengaruh dan terbawa. Anak yang berperilaku baik akan menyebabkan perubahan sikap pada temannya.

      Kita ambil contoh si Amin tadi, di lingkungan sekolah, dia berteman dengan Rizqi yang pintar dan rajin, kemudian di lingkungan masyarakat sehari-hari dia bermain lagi dengan Rizqi, berhubung Rizqi ini anak baik, maka Rizqi akan membawa pengaruh baik pula pada Amin. Amin yang tadinya gemar bermain dapat berubah karena Rizqi mengajaknya untuk bermain bersama,ternyata bermain bagi Rizqi adalah mempelajari materi pelajaran yang tadi dipelajari di sekolah maupun mempelajari materi yang akan dipelajari. Mereka jadi terbiasa untuk “bermain” (belajar) bersama.

      Lambat laun, kebiasaan bermain bersama ini membawa dampak positif bagi Amin, karena ia terus menerus belajar, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang rajin dan pintar. Begitulah peranan teman sebaya yang baik, semakin banyak teman yang berperilaku baik maka perilaku kitapun akan menjadi baik. Karena bukan hanya kebiasaan buruk yang mudah menular, perbuatan baikpun akan mudah masuk ke perilaku anak.

      Anak banyak belajar dari lingkungannya, apa yang anak lihat, apa yang menarik perhatian mereka, hal-hal yang mereka rasakan dan lakukan akan berpengaruh pada kepribadian mereka. Dalam pergaulannya, terkadang ada anak yang hanya mau berteman dengan satu orang saja,  hal ini tidak bagus untuk perkembangan sosial anak, karena pada masa kanak-kanak mereka banyak menghabiskan waktu untuk bermain bersama teman sebayanya.

      Bagaimanapun teman sebaya adalah orang yang selalu ada di samping mereka, jadi baik atau tidaknya seseorang bias dilihat dari “siapa orang yang bergaul bersama mereka”. Seperti kata pepatah “orang yang dekat dengan tukang las, akan terkena percikan api, sementara orang yang berteman dengan penjual minyak wangi, akan tercium aroma wanginya”.

      Seperti yang tertulis sebelumnya, anak yang belajar dari lingkungannya, termasuk di dalamnya adalah teman sebaya yang memegang peranan penting terhadap perilaku anak, karena bisa saja di rumah sudah dididik dengan baik oleh orang tua, tapi perilaku anak di luar rumah menjadi buruk akibat pengaruh teman sebayanya. Dan suatu ketika bisa saja perilaku anak itu membaik akibat bergaul dengan teman sebaya yang mengajaknya ke arah kebaikan.

      Yang dimaksud dengan belajar bukan hanya menggunakan alat tulis, bukan hanya mendengarkan dan mengerjakan tugas dari guru di sekolah. Tetapi juga pembelajaran yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Seperti cara bergaul dalam masyarakat, menghormati orang lain, sopan santun, dan lain sebagainya. Hal itu tidakanak temui di sekolah, tetapi lingkunganlah yang membelajarkan anak, seperti yang telah saya bahas sebelumnya, anak belajar dari lingkungan keluarga, yaitu menurut didikan orang tua, dan lingkungan masyarakat, serta lingkungan sekolah.

      Semakin sering anak bergaul dengan anak yang badung, maka perilaku anak tersebut akan terpengaruh oleh teman sebayanya, begitupula dengan anak yang bergaul dengan anak yang baik, maka perilakunya akan membaik seperti kawan sebayanya. Pembelajaran yang akan diperoleh anak tergantung pada teman sebaya yang menemaninya, anak akan tertular perilaku temannya yang rajin maupun malas, semakin banyak anak bermain atau belajar bersama, maka semakin banyak pembelajaran yang dapat diambil.

      Anak yang menghabiskan waktu dengan teman sebayanya untuk bermain, akan mengembangkan cara untuk bergaul satu sama lain, belajar untuk setia kawan, belajar untuk toleransi, saling menjaga, saling berbagi dan mengerti. Baik teman sebayanya mengajak ke hal positif maupun negative. Karena pada dasarnya anak merasa nyaman bergaul dengan teman sebayanya tesebut. Apalagi bila teman sebayanya tersebut merupakan anak yang rajin,baik, sopan dan santun, maka dapat saling mengingatkan,saling mengerti satu sama lain dan saling membantu. Hal ini merupakan pembelajaran yang penting bagi anak, karena kecerdasan seseorang tidak hanya ditentukan dengan nilai yang bersifat nominal, justru mengembangkan karakter tidak dapat diukur dengan angka. Di sini anak belajar untuk menemukan apa sebenarnya yang sesuai dengan dirinya, apa yang sebenarnya ia mau, apa yang ia harapkan dari dirinya maupun orang lain. Ini merupakan pembelajaran yang sesungguhnya dan terjadi secara langsung.


      Kesimpulan saya, belajar tidak hanya di dalam sekolah ataupun di tempat-tempat bimbingan belajar, anak juga belajar banyak hal dari teman sebayanya, anak akan belajar untuk saling memahami, melengkapi, dan membantu. Apalagi bila teman sebayanya memiliki perilaku yang baik, hal ini akan sangat mempengaruhi perilaku anak, anak akan tertular sikap baik dan rajinnya, sehingga dapat memperoleh prestasi yang bagus di sekolah. Begitupula yang akan terjadi bila anak nergaul dengan teman sebaya yang memiliki perilaku tidak baik, anak akan belajar bagaimana cara mengganggu teman, bagaimana menjadi trouble maker, dan lain sebagainya.